Jumat, 25 Oktober 2013



Lontong gulai atau ketupat gulai di Padang kini tidak lagi hanya untuk sarapan pagi. Lontong gulai saat ini juga naik kelas menjadi salah satu pilihan jajanan kuliner di malam hari. Tetapi istimewanya tidak hanya sekadar lontong sayur biasa yang diguyuri gulai cempedak dengan taburan kerupuk.

Lontong pilihan kuliner pada malam hari ini adalah lontong stengkel. Stengkel ini adalah tulang kaki sapi yang didalamnya masih ada cairan sum-sum. Biasanya untuk sup.

Tempat mencari ontong stengkel ada di Pujasera di Jalan Gajahmada di sebelah kiri MAN Negeri 2 di 
Gunung Pangilun Padang. Namanya Lontong Stengkel Amak Galak. Mulai dijual setelah magrib hingga pukul 11 malam.

Walau warung itu baru dibuka, beberapa pembeli malah sudah duduk lesehan dan sudah menikmati lontong stengkel. Tak lama pesanan  datang. Seporsi lontong dengan beberapa potongan cempedak diantara kuah gulai, kerupuk dan sepotong stengkel yang besar di atasnya dalam posisi berdiri. Potongan stengkel itu dilengkapi dengan pipet untuk menyeruput cairan sum-sum. Dan untuk mengikis daging yang masih melekat di tulang stengkel, juga disediakan pisau tipis yang tajam.

Ini bukan lagi jenis makanan ringan, tetapi cocok untuk makan malam yang berat dan mengenyangkan. Rasa gulai cempedaknya memang lebih nikmat, karena dimasak dengan tulang stengkel yang masih berdaging sehingga rasa gulai cempedaknya lebih gurih dari gulai cempedak biasa. Cempedaknya juga empuk.

Karena tidak terbiasa makan stengkel, saya hanya menghabiskan sebagian daging pada tulang. Tetapi pengunjung lain yang tampaknya penggemar berat stengkel di sebelah saya, tampak begitu telaten mengikis daging dan lemak pada tulang dengan pisaunya, lalu mencampurnya dengan kuah gulai cempedak dan menikmatinya walau tangannya juga belepotan kuah.

Lontong stengkel ini sebelumnya juga dibuat untuk sarapan oleh Hermayenti sang permasak lontong stengkel. Awalnya, masakan lontong stengkel ini dibuat oleh ibunya dijual di dekat rumah mereka di Stasiun Kereta Api Simpang Haru di Padang.

"Kami juga punya usaha rumah makan, lalu pada tukang daging sering minta stengkel, dan oleh ibu saya dicampur untuk membuat gulai cubadak untuk lontong, ternyata rasanya enak, akhirnya kami juga membuat lontong dengan stengkel yang dijual di rumah untuk tetangga di sekitar rumah," kata Hermayenti yang murah senyum.

Nama lontong stengkel Amak Galak memang dipakai dari julukannya yang murah senyum . Galak dalam bahasa Minang artinya tertawa. Amak artinya emak. Merek Amak Galak itu dibuat setelah usaha ini dilanjutkan oleh putrinya Sriwahyeni dan tidak lagi dijual di sekitar rumah tetapi pindah ke sebuah Pujasera di Jalan Gajahmada di sebelah kiri MAN 2 Gunung Pangilun Padang.

Di tangan Sriwahyeni, lontong stengkel kini menjadi salah satu pilihan kuliner malam di Padang. Penggemarnya juga cukup banyak. Bila Anda penggemar stengkel, silahkan coba lontong stengkel di Padang.

0 komentar :

Posting Komentar